Kini rekan-rekannya menjulukinya sebagai juragan gudeg. Warung gudegnya sering dijadikan tempat berkumpul untuk berkesenian. Lantai atas warungnya itu biasa dijadikan tempat pameran, diskusi sastra, dan pementasan seni. Penyuka burung dan jenggot ini bilang, ”Sastra jalan kalau ada duit.” Dulu, ia adalah manajer personalia di sebuah perusahaan swasta. Tapi, sikap kesehariannya kerap tidak seiring dengan pemilik [...]
Filed under: Uncategorized | Ditandai: buruh, sastra, tangerang | 5 Komentar »