ASA YANG BERASAP

“Gimana Pak ?” Tanya Eni pada suaminya

“Mau gimana lagi bu.” Marno menarik nafas,” Bukan cuma kita yang harus seperti ini, malah ada yang lebih parah lagi dari kita. Pak Maman gajinya malah minus Rp.179.000,-. Kita cukup beruntung bisa bawa pulang  uang meski cuma Rp. 35.000 saja.“

“Kok pabrik gitu amat sih Pak?”

“Makanya Bu, kalo Bapak sama kawan-kawan seperjuangan tidak berontak, ke depannya malah makin parah, kita akan terus ditindas, diperlakukan semau mereka.”

Terbayang dalam benak Marno sejak tanggal 2 Juni 2009 dia dan teman-temannya yang tergabung dalam Serikat Buruh melakukan pemogokan kerja. Hal itu terpaksa dilakukan oleh Marno dan teman-temannya karena para pendiri dan sekaligus pengurus Serikat Buruh dirumahkan dan di skorsing oleh pabrik.

Dalam aksi damai tersebut, tuntutan menjadi bertambah selain kebebasan berserikat, Marno dan teman-temannya juga menuntut penyesuaian gaji pokok sesuai dengan SK Gubernur. Karena selama ini gaji pokok yang diterima lebih rendah dari UMK.

Setelah melakukan mogok kerja selama 4 hari aksi tersebut berhenti. Bukan karena tuntutan dipenuhi namun karena terbentur hari libur. Namun alangkah terkejutnya mereka ketika tanggal 8 Juni mereka hendak melakukan aksi lagi di depan gerbang pabrik, mereka melihat tempelan pengumuman yang mengatakan bahwa pabrik TUTUP. Pak Marno hanya bisa bengong melihat hal tersebut, dia yang sempat mendapat kopian Undang-undang Ketenagakerjaan langsung merogoh tas yang selalu dibawanya. diambilnya kopian tersebut. Ditelitinya satu persatu pasal-pasal hukum ketenagakerjaan akhirnya ditemukannya pasal tentang lock out alias penutupan pabrik.

Namun Marno kembali kecewa karena kalaupun pabrik terkena denda akibat penutupan pabrik dendanya cuma lima juta rupiah dan paling banyak hanya lima puluh juta rupiah. Betapa enaknya perusahaan yang sewenang-wenang.

Bukan hanya Marno seorang yang merasa kecewa dengan tidak gentlenya pihak perusahaan, namun semua yang hadir disitu menjadi kecewa, marah dan ketakutan kehilangan pekerjaan berbaur mengaduk-aduk hatinya. Pihak dinas tenaga kerja juga ikut emosi ketika mendengan bahwa pabrik tutup, dua orang utusan dinas datang dan mencopot beberapa lembar pengumuman yang di tempel di seputar gerbang pabrik.

Sampai akhirnya terdengar teriakan orator yang meminta para buruh untuk tetap tenang, dan meminta untuk tetap tinggal di depan pabrik. Mereka menyiapkan tenda dan dapur untuk keperluan selama menginap di depan pabrik. Sang orator mengatakan bahwa pihak pabrik hanya mencoba untuk kucing-kucingan dengan buruhnya. Karena meskipun terjadi aksi mogok kerja namun beberapa orang yang merupakan karyawan kontrak tetap bekerja. Produksi tetap berjalan, pengiriman barang juga tetap berlangsung. Marno yang ikut menginap di depan perusahaan juga kaget. Meskipun di gerbang tertulis bahwa pabrik tutup ternyata beberapa mobil container tetap masuk dan melakukan aktifitas bongkar muat. Marno bertanya dalam geram, tutup kok tetap ada yang kerja.

Langit seakan turut berduka dengan nasib yang menimpa Marno dan teman-temannya. Perlahan namun pasti titik-titik air menetes membasahi bumi, membasahi sebagian rambut dan baju Marno yang sudah tercampur keringat tadi siang. Namun rintik air hujan yang tidak seberapa besar tidak menyurutkan hasrat menginap di depan pabrik. Malam terasa berjalan lambat, teman-teman Marno mulai menggelar tikar, Koran dan apa saja yang bisa dijadikan alas untuk merebahkan badan atau sekedar untuk duduk-duduk.

Beberapa orang terlihat memainkan buah catur, membanting kartu, bergurau, minum kopi untuk sejenak melupakan rintangan yang menghadang di depan mereka. Marno sendiri memilih untuk tiduran sambil memainkan jari jemarinya diatas telpon genggam yang belum lunas kreditnya, menghubungi anak istrinya yang menanti di rumah.

Matahari menyembul, memancarkan sinar cerah. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin begitu harapan Marno. Namun harapan tinggal harapan. Pihak pabrik tetap tidak mau menemui buruh pabriknya. Orasi yang dilakukan teman-teman Marno menggugah semangat perlawanan, Menentang penindasan terhadap kaum buruh, Menuntut kenaikan gaji, ada yang sekedar menyanyikan lagu-lagu perjuangan, silih berganti membangkitkan semangat melupakan panas matahari yang kian menyengat, mengabaikan peluh yang membasahi baju seragam pabriknya yang sejak kemarin belum diganti.

Pagi berlalu dengan cepat, siang berlari dikejar senja. Ufuk barat merah merona disambangi sang surya yang hendak tenggelam. Namun disaat bersamaan menyambut tenggelamnya sang surya aparat kepolisian yang disiagakan sejak hari pertama aksi mulai beraksi. Senjata dikokang, mereka mengusir Marno dan teman-temannya dari pelataran pabrik. Marno sadar, bahwa dia dan teman-temannya hanya ijin sampai jam 6 sore untuk aksi.

Marno mengalah, dia menyingkir ke pinggir, bukan karena takut atau pengecut, tapi Marno tak mau aksi yang damai menjadi anarkis karena bentrok dengan polisi yang sudah dihinggapi rasa bosan terdiam selama beberapa hari di pabrik tanpa pelayanan memadai. Akhirnya setelah berdialog dan berunding diputuskan membubarkan diri, untuk besok paginya menghadap ke tingkat yang lebih tinggi.

Marno yang tidak mempunyai kendaraan akhirnya berangkat ke pabrik dengan modal helm yang dimasukkan ke tasnya. Dia sengaja membawa helm dengan harapan ada motor yang bisa ditumpangi untuk membawanya ke kantor Menakertrans dan DPR RI tempat aksi selanjutnya. Hal itu terpaksa dilakukan karena Marno dan teman-teman merasa kalau mereka tidak terakomodir di wilayah kotanya. Sehingga merekla memilih untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.

Rombongan sepeda motor berjalan pelan dengan kawalan dari tim kepolisian. Marno berharap di Menaker nanti ada hasil yang mengembirakan atau ada harapan yang bisa dimunculkan oleh wakil rakyatnya di dewan sana.

Namun lagi-lagi kekecewaan menyelimuti hati Marno, Bapak Menteri sedang ke luar negeri mengikuti Presiden, sementara di gedung dewan Marno kembali tersenyum. Harapan itu muncul kembali setelah para anggota dewan berjanji akan menyuruh menaker menekan pihak disnaker kotanya, sementara anggota dewan sendiri akan meninjau pabrik tempat Marno bekerja. Marno pulang dengan senyum di kulum.

Namun apa daya, keesokan harinya saat Marno sedang asik bekerja. Ada panggilan terhadapnya dari pihak pabrik, Kartu karyawannya diambil pabrik, tanpa penjelasan, statusnya menggantung, mau bekerja tidak bisa, padahal dia masih berharap tetap bekerja di perusahaan yang sudah sepuluh tahun lebih menjadi tempatnya bekerja. Kembali nuraninya berontak, atas dasar apa pabrik berbuat seperti itu. dan kenapa dari sekian ratus orang yang datang ke gedung DPR hanya lima puluh orang saja yang diambil kartu pengenalnya, termasuk dia.

Politik pabrik dalam memecah persatuan buruh sepertinya, agar rapuh dan tak berdaya. Dengan rasa gundah yang hinggap, disusurinya jalan pulang. ditemuinya istri tercinta, diajaknya sang anak tersayang. Alur cerita hidupnya telah berganti. Jadwal hariannya berubah. Harapan yang sempat membuncah kembali luruh. Untung masih ada istri yang mampu membangkitkan semangatnya.

“Pak, rejeki itu sudah ada yang ngatur. Kalaupun akhirnya Bapak di PHK, Tuhan nggak akan membiarkan kita mati kelaparan. Asal kita mau berusaha pasti ada yang bisa kita nikmati esok hari”

Gimana besok ? kita tunggu cerita dari Pak Marno besok ya … sabar … perjalanan masih panjang

Tinggalkan Balasan